
TL;DR
Makanan manis adalah jenis makanan yang dominan mengandung gula, baik alami maupun tambahan. Contohnya mencakup jajanan pasar tradisional seperti klepon dan serabi, kue modern seperti croissant dan macaron, hingga minuman manis kekinian. Kemenkes RI merekomendasikan konsumsi gula harian maksimal 50 gram atau sekitar 4 sendok makan per hari. Data tahun 2023 menunjukkan 47,5% warga Indonesia mengonsumsi minuman manis lebih dari sekali sehari.
Tidak banyak orang yang bisa menolak makanan manis sepenuhnya. Rasa manis adalah salah satu dari lima rasa dasar yang dikenali lidah manusia, dan ada alasan biologis mengapa kita menyukainya: gula adalah sumber energi cepat yang dibutuhkan tubuh. Masalahnya, contoh makanan manis yang tersedia sekarang jauh melampaui kebutuhan biologis itu, mulai dari jajanan pasar yang kaya tradisi hingga camilan kekinian yang dirancang agar sulit berhenti.
Makanan Manis Tradisional Indonesia
Indonesia punya kekayaan kuliner manis yang sebagian besar sudah ada sebelum gula pasir masuk ke dapur Nusantara. Pemanis tradisional seperti gula merah, gula aren, dan nira kelapa menjadi dasar rasa di banyak kue dan jajanan pasar.
Klepon
Klepon adalah bola kecil dari tepung ketan yang diisi gula merah cair, direbus, lalu dilumuri kelapa parut. Saat digigit, gula merah di dalamnya meleleh dan memberi kejutan rasa manis yang khas. Jajanan ini sudah ada di hampir seluruh pulau di Indonesia dengan variasi nama dan bentuk yang berbeda.
Serabi
Serabi adalah kue tipis dari tepung beras dan santan yang dipanggang di atas cetakan tanah liat. Ada dua versi utama: serabi Solo yang cenderung lembut dan manis, dan serabi Bandung yang lebih tebal dengan topping beragam seperti pisang, meses, atau keju. Tekstur dan aroma serabi yang dipanggang di atas bara api sulit ditiru oleh oven modern.
Kue Putu
Kue putu dibuat dari tepung beras yang dikukus dalam bambu kecil dengan isian gula merah di tengahnya. Suara peluit uap yang khas dari gerobak penjual putu sudah menjadi bagian dari memori kolektif banyak orang Indonesia. Kue ini disajikan dengan kelapa parut yang memberi rasa gurih sebagai penyeimbang.
Getuk
Getuk terbuat dari singkong rebus yang ditumbuk dan dicampur gula. Ada getuk lindri dari Jawa Tengah yang dicetak seperti mi panjang berwarna-warni, dan getuk goreng dari Banyumas yang teksturnya lebih padat dan sedikit renyah di luar. Keduanya menggunakan singkong sebagai bahan dasar, menjadikannya salah satu contoh makanan manis berbahan lokal yang terjangkau.
Baca juga: SIPAFI Kabupaten Tapin: Panduan Registrasi dan Fiturnya
Makanan Manis Modern dan Kekinian
Selain warisan tradisional, pasar kuliner Indonesia juga dipenuhi oleh makanan manis yang masuk dari pengaruh luar atau lahir dari tren kuliner kekinian.
Macaron
Macaron adalah kue kecil asal Prancis dari putih telur, gula, dan tepung almond dengan isian buttercream atau ganache. Teksturnya renyah di luar dan lembut di dalam. Di Indonesia, macaron populer sebagai hampers dan oleh-oleh premium, meski harganya jauh lebih tinggi dibanding jajanan tradisional.
Mochi
Mochi berasal dari Jepang, terbuat dari tepung ketan yang dipadatkan dan diisi dengan pasta kacang, cokelat, atau es krim. Di Indonesia, varian mochi sudah diadaptasi dengan isian lokal seperti kacang tanah berbumbu. Kota Sukabumi bahkan dikenal sebagai sentra produksi mochi lokal yang sudah dikenal cukup luas.
Boba dan Minuman Manis Kekinian
Bubble tea atau boba adalah minuman manis dari teh, susu, dan bola tapioka kenyal yang sempat sangat populer. Satu gelas boba dengan ukuran standar bisa mengandung 30 hingga 60 gram gula, tergantung tingkat kemanisan yang dipilih. Ini sudah mendekati atau bahkan melebihi batas harian yang direkomendasikan.
Makanan Manis Berbasis Buah
Buah-buahan adalah sumber rasa manis alami yang mengandung fruktosa, berbeda dengan sukrosa dalam gula pasir. Secara nutrisi, gula alami dalam buah utuh dianggap lebih baik karena disertai serat, vitamin, dan mineral.
Contoh olahan buah yang manis populer di Indonesia antara lain: rujak manis dengan saus gula merah dan bumbu, es buah campur dengan sirup, kolak pisang atau labu dengan santan dan gula aren, serta manisan buah kering seperti manisan mangga atau belimbing.
Dampak Konsumsi Makanan Manis Berlebihan
WHO merekomendasikan asupan gula tambahan tidak lebih dari 10% dari total energi harian, atau idealnya di bawah 5%. Dalam angka praktis, Kementerian Kesehatan RI menetapkan batas 50 gram gula atau sekitar 4 sendok makan per hari.
Kenyataannya jauh berbeda. Tirto.id melaporkan bahwa data Survei Kesehatan Indonesia 2023 mencatat 47,5% warga Indonesia berusia 3 tahun ke atas mengonsumsi minuman manis lebih dari sekali sehari. Angka ini menunjukkan pola konsumsi yang sudah jauh melampaui anjuran.
Dampak jangka panjang dari konsumsi gula berlebihan meliputi peningkatan risiko diabetes tipe 2, obesitas, kerusakan gigi, dan gangguan kardiovaskular. Risiko ini bukan sesuatu yang muncul tiba-tiba, melainkan akumulasi dari kebiasaan sehari-hari selama bertahun-tahun.
Baca juga: Berita Terbaru PAFI Kabupaten Tapin
Memilih Makanan Manis yang Lebih Bijak
Menghindari makanan manis sepenuhnya bukan solusi yang realistis bagi kebanyakan orang. Yang bisa dilakukan adalah membuat pilihan yang lebih sadar. Jajanan tradisional berbasis gula alami seperti klepon atau kue putu umumnya mengandung lebih sedikit gula tambahan dibanding minuman manis kemasan atau kue modern yang sarat frosting.
Alodokter menyarankan untuk memperhatikan label kemasan dan memilih produk dengan kandungan gula lebih rendah. Untuk minuman manis kekinian, memilih tingkat kemanisan lebih rendah (misalnya 50% gula) adalah langkah sederhana yang bisa mengurangi asupan gula tanpa harus berhenti sama sekali. Pada akhirnya, menikmati makanan manis dengan kesadaran penuh tentang porsinya adalah kunci untuk tetap bisa menikmati tanpa mengorbankan kesehatan jangka panjang.
